Review Ni no Kuni: Wrath of the White Witch – Ghibli, Seni, dan... RPG?
Review by Blue Orchid dari Komunitas Player Dua
Pernah nggak kamu membayangkan rasanya “masuk” ke dalam film Studio Ghibli? Itulah perasaan pertama yang muncul saat aku memainkan Ni no Kuni: Wrath of the White Witch. Game hasil kolaborasi Level-5 dan Studio Ghibli ini adalah sebuah keajaiban visual yang akhirnya mendarat di genggamanku lewat Nintendo Switch.
Setelah menuntaskan petualangan selama 50 jam, aku merasa game ini adalah surat cinta untuk para pemimpi. Kita mengikuti kisah Oliver, anak laki-laki dari Motorville yang baru saja kehilangan ibunya. Di tengah kesedihan, bonekanya tiba-tiba hidup memperkenalkan dirinya sebagai Drippy, si Raja Peri dan memberi tahu kalau ada dunia lain di mana “doppelganger” ibunya mungkin bisa diselamatkan. Maka, dimulailah perjalanan lintas dunia yang menguras air mata sekaligus kesabaran. Yuk mulai dari sinopsisnya!
Sinopsis
Oliver (オリバー, Oribā?) adalah seorang anak dari kota Motorville yang karena suatu musibah harus kehilangan ibunya, ditengah kesedihan, boneka buatan ibu oliver tiba-tiba hidup dan menyebut dirinya Drippy, king of fairies, Drippy bilang kalau ada dunia lain dimana “doppleganger” dari seluruh penduduk motorville itu hidup, dan doppleganger dari ibu Oliver adalah seorang Sage, Oliver pun memulai perjalanan nya ke dunia lain tersebut, demi bertemu ibunya kembali.
PLUS: Wholesome Story
Amazing and wholesome story, Sebuah kisah yang menyentuh dari Oliver yang sebatang kara berusaha menghadapi 5 stages of Grieving, dengan development character yang sangat baik, dari seorang anak kecil di motorville, menjadi seorang penyelamat dunia.
PLUS: Voice Acting
Immersive voice acting buat dub inggris dan jepang, opsi apapun yang jadi preferensi kita, keduanya memuaskan, Dub jepang akan terasa seperti menonton film-film ghibli kaya Spirited Away & Porco rosso, Dub English akan terasa seperti kartun disney klasik seperti snow white dan hunchback of notredame, sebuah performance yang mengingatkan pada masa kecil pastinya.
PLUS: Visual
Visual Ghibli yang sangat memanjakan mata, Lagi lagi, Ghibli magic menghidupkan dunia dari Ni No kuni, tapi Level-5 studios sebagai Developer juga berhasil mengaplikasikan style Ghibli ke bentuk 3D, sesuatu yang jarang kita lihat terutama sebelum game ini dirilis di PS3 dulu.
PLUS: Music
Music yang charming, music menenangkan khas fantasy Ghibli dan cukup catchy layaknya musik prof. Layton daro level-5.
MINUS: Combat System
Combat yang sangat slow paced dan repetitif, player tidak sepenuhnya memiliki control pada party member,player bisa mensummon familiar untuk combat dan reposition, namun ketika familiarn di summon, player akan menggerakan familiar instead of character human, party member lain digerakan oleh AI yang tidak bisa dibilang pintar, cenderung konyol, terutama di level awal dimana skill character masih sangat sedikit.
MINUS: Grinding Experience
Progression dan Grinding experience yang lambat dan membingungkan, Familiar perlu EXP yang berbeda untuk level up, tapi setiap familiar punya EXP growth yang berbeda pula tergantung category nya, lalu ketika familiar akan metamorphosis, untuk mencapai bentuk baru, familiar akan kembali ke level 1, serta kehilangan semua skill yang telah, dipelajari. Rewards dari combat baik gold maupun EXP juga sangat kecil di 10 jam pertama permainan, ini menghasilkan pengalaman bermain yang membosankan dan cenderung dragging, ditambah lagi mininya variasi dan kustomisasi yang bisa dilakukan, setiap character dan familiar hanya punya 1 kategori weapon yang bisa di equip dan 1 kategori armor , slot trinket/accessories justru lebih membingungkan, ada familiar/character yang bisa menggunakan semua trinket, ada yang cuma bisa di equip dengan badge, ada yang cuma accessories, indicator-nya apa? Tidak ada, semua trial and error.
MINUS: Pacing Cerita
Pacing cerita yang terlalu lambat di awal namun ramping dengan sangat cepat di akhir. Butuh waktu lama sebelum kamu benar-benar bisa mulai berpetualang. Rangkaian tutorial dan perkenalan di Motorville sebelum Oliver bisa menggunakan mantra Gate terasa terlalu panjang dan bisa bikin pemain yang kurang sabar langsung menyerah di awal.
GRAY AREA
90% spell yang dipelajari olver merupakan spell 1 time use untuk plot tools dan tidak bisa digunakan lagi membuat fantasy sebagai penyihir di dubai fantasy terasa kurang memuaskan. Pacing cerita yang terlalu lambat di awal namun ramping dengan sangat cepat di akhir. Travelsal yang aneh, 20 jam pertama player akan dipaksa explore overworld dengan berjalan kaki, sebelum kemudian membuka opsi menaiki kapal layar, di babak transisi mid game ke end game, player diberi opsi untuk mengendarai naga, jarak dari membuka explorasi dengan kapal laut ke explorasi world map dengan naga hanya berbeda 1 arc/ 1 plot points, membuat kapal yang di unlock pada cerita terkesan sebagai formalitas dan Afterthought.
KESIMPULAN
Sebuah product of its time, game yang luar biasa menarik, tapi dengan gameplay yang terkesan kurang beradaptasi dengan zaman. AI companion yang mempersulit ketimbang membantu. Grinding extreme yang sudah tidak relevan lagi di 2026, serta berbagai pacing issue yang aneh nya tetap mempertahankan kualitas cerita. Tapi di situ titik terberatnya. Cerita, musik dan visual jadi alasan game ini bisa di”elu”kan banyak pemain JRPG dan alasan utama kenapa gw bisa bertahan sampai tamat, mungkin karena gameplay yang penuh masalah ini, seri kedua Ni no kuni merubah total gameplay-nya, gw tamat sekali, mungkin nggak lagi.
Final Verdict
Visual 10/10
Story 10/10
Music 8/10
Gameplay 5.5/10
Final Score : 8.4/10
Plus & Minus Summary
Plus:
Wholesome Story
Visual
Voice Acting
Music
Minus:
Combat System
Grinding Experience
Pacing Cerita








![Review] Ni no Kuni: Wrath of the White Witch Remastered | Play-Verse Review] Ni no Kuni: Wrath of the White Witch Remastered | Play-Verse](https://substackcdn.com/image/fetch/$s_!-Zo_!,w_1456,c_limit,f_auto,q_auto:good,fl_progressive:steep/https%3A%2F%2Fsubstack-post-media.s3.amazonaws.com%2Fpublic%2Fimages%2F46f36469-543b-4e4a-b339-97e13985e2da_1280x720.jpeg)