Review Final Fantasy X HD Remaster: Perjalanan Suci yang Menguras Emosi dan Logika
Review by Amey dari Komunitas Player Dua
“Listen to my story. This may be our last chance.” Kalimat ikonik dari Tidus itu rasanya masih terngiang jelas buat siapa pun yang pernah menginjakkan kaki di Spira. Final Fantasy X HD Remaster (FFX) bukan sekadar game RPG; ini adalah sebuah perjalanan suci (pilgrimage) yang membawa kita menyelami arti kehilangan, pengorbanan, dan perjuangan melawan takdir.
Setelah menghabiskan lebih dari 68 jam di versi PC-nya, aku merasa kalau game ini tetap punya “sihir” yang sama meski sudah berusia belasan tahun. Kita diajak mengikuti kisah Tidus, atlet Blitzball yang terlempar ke dunia asing bernama Spira setelah kotanya hancur. Di sana, ia bertemu Yuna dan para pelindungnya dalam misi menumbangkan entitas raksasa bernama Sin. Tapi, apakah perjalanan ini sesederhana itu? Ternyata nggak, kawan. Mari kita mulai dari sinopsisnya dulu yuk!
Sinopsis
Perjalanan bermula ketika Tidus, sang atlit Blitzball Zanarkand Abes yang hendak bertanding derby di stadion kota Zanarkand sontak diserang oleh maklhuk raksasa dan kawanannya. Mencoba untuk kabur dari tempat tersebut, Tidus bertemu Jecht, pria misterius yang kemudian membuat keduanya tersedot pusaran gelombang. Saat tersadar, Tidus terbangun di sebuah dunia bernama Spira, warga di sana bilang kota Zanarkand sudah hancur seribu tahun lalu. Maka dimulai dari sinilah perjalanan Tidus mencari jalan kembali ke Zanarkand. Ia tau kunci kembalinya ia ke Zanarkand terletak pada Jecht dan makhluk raksasa bernama Sin tersebut.
Di Spira, Tidus bertemu Yuna dan para pelindungnya yang akan melakukan perjalanan suci untuk mengunjungi kuil-kuil di Spira dan mengungkap kebenaran dibalik Sin.
PLUS: Narrative Design
Sebuah alur koheren yang benar-benar memikat. Gimana cara Tidus balik ke Zanarkand? Sins itu apa? Kenapa Tidus yang dibawa? Kenapa semua summoner ingin berangkat pilgrimage? Apa yang ada di ujung pilgrimage? Kenapa Al Bhed tetap pakai mesin meski seluruh warga Spira benci mereka?
Semua ketidaktahuan ini memicu tiap sisi prefrontal cortex kita, bersiap untuk menambah cabang pengetahuan kita soal kehidupan, kematian, perjuangan, merelakan.
Sebagaimana JRPG di jamannya, cerita slow burn ini perlahan lahan memberikan rasa hangat hingga panas pada kepala kita untuk siap menyingkap tiap misteri, tiap perjalanan, tiap kisah duka sepanjang jalan bersama Yuna, Tidus dan Guardian lainnya.
Semuanya saling membahu demi memberikan payoff yang memuaskan diujung. Membuat kantung air mata melimpah, setidaknya satu orang dewasa yang pernah melewati duka mestinya bisa memahami bahwa kisah ini memang harus berakhir begitu. Bahwa perubahan memang butuh pengorbanan, baik waktu, tenaga dan darah sekalipun.
PLUS: Gameplay
Mungkin kalian bingung kenapa penulis menempatkan gameplay pada nomor 2? Kenapa bukan combat? ‘Kan lebih spesifik? Sungguh pertanyaan yang cukup wajar. Ini semua selaras dengan tindakan square dalam menjadi arsitek serta tukang bangunan atas gameplay Final Fantasy X ini. Penulis menyematkan gameplay sebagai poin positif keseluruhan karena yang menarik dari karya seni satu ini, ialah kemampuan mereka menyelaraskan cerita, combat, skill tree, bahkan world enviornment dalam satu siklus utuh, tepat sebagaimana tema gim ini.
Biar aku jelaskan, perjalanan Yuna dalam melakukan pilgrimage ini mewajibkannya summon makhluk yang disebut Aeon di tiap kuil, lantas apa yang developer lakukan? Mereka membuat gameplay dimana mekanik karakter Yuna bisa summon Aeon dalam pertarungan. Selaras dengan cerita yang mereka berikan.
Combat? Tiap karakter punya kemampuan uniknya masing-masing, setiap kemampuan mereka ini bermanfaat dalam kondisi tertentu dan tiap karakter belum tentu cocok dalam semua kondisi, sehingga memaksa kita beradaptasi. Kepiawaian kita akan ikut bertumbuh bersama hadirnya lawan-lawan kuat yang muncul di depan nanti. Terlebih, mereka juga meletakkan limit break, sebagai bentuk “Ulti” karakternya apabila mencapai akumulasi damage tertentu terhadap musuh atau yang diterima karakternya.
Skill Tree? Salah satu paling visioner di jamannya. Bila di masa itu tiap karakter punya skill treenya sendiri, di gim ini, sang developer menyematkan mekanik Sphere Grid di skill treenya. Progres tiap karakternya memanfaatkan AP yang kita dapat dari tiap pertempuran dan tiap kali akumulasi AP mencapai ambang batas tertentu yang memberikan kita kesempatan menaikkan 1 stat ataupun ability karakternya disebut dengan Sphere Level. Sebenarnya ini mekanik biasa, penulis merekomendasikan pembaca untuk ganti saja istilah AP jadi XP dan Sphere Level sebagai Skill Point. Cukup bisa dipahami bukan? Sederhana bukan? woh tentu tidak! Tiap karakter memang unik, dan punya siklus jalur sphere grid sendiri, tapi di mid dan end game, kalian bisa kustomisasi ulang karakter ini jadi lintas kemampuan. Tiap karakternya di awal punya bekal skill unik masing-masing, tapi di paruh akhir, kalian bisa membuat satu karakter memiliki kemampuan karakter lain, maksimalilasi karakter hingga akhir! Sungguh kebebasan tiada tara bukan? iya, sekali lagi selaras sama temanya!
Semua keselarasan itu menyatu pula dengan World Environment-nya yang membuat kita sekali lagi teringat soal kebebasan, perjuangan, pengorbanan, merelakan. Inilah hal yang sekali lagi ketika penulis menorehkan hal ini dalam kata membuat penulis menyimpulkan Gameplay adalah poin plus ultra!
PLUS: Soundtrack
Tiap orang yang memegang controllernya dan menghampiri Spira serta Zanarkand pasti sepakat To Zanarkand dan Hymn of the Fayth adalah lagu yang membuat relung hati bergetar, pipi peluh, sistem indra tumpul sesaat. Tak cukup kata untuk menjabarkan betapa membekasnya semua kombinasi partitur itu dalam tiap kali pemutarannya. Sungguh pengalaman yang membuat kita tenggelam cukup dalam hingga lebih dalam dari zona abisal terdalam.
Kalau dibedah, tiap partiturnya menyiratkan kombinasi yang selaras dengan tema, semuanya saling melepas, saling merelakan, saling berkorban, saling memperjuangkan satu sama lain untuk membentuk suatu komuni yang kohesif dan tak terbelah.
Sungguh suatu karya seni yang layak untuk diperdengarkan jutaan kali di seluruh dunia.
PLUS: Character Progression
Pohon tentu bisa tumbuh tanpa cabang, tanpa ranting. Tapi pohon tak bisa tumbuh tanpa akar. Perjalanan bercabang di bagian batang diikuti dengan akar karakter yang ikut memberikan kontribusi hingga baik cabang atas maupun bawah bisa saling berkontribusi satu sama lain. Lewat plot utama, Square bisa menghadirkan desain cerita dan dunia yang mampu memberikan pemahaman mendalam pada kita. Lewat pengembangan karakter, mereka memberikan kita kemampuan untuk bersimpati, menerima, serta merasakan yang tiap karakternya lewati. Tiap trauma, tiap kehilangan sekali lagi memberikan sentakan ringan pada amigdala kita untuk memeluk hangat tiap karakternya dan bilang “Tak apa, kita lewati bersama-sama”
Bahkan setelah belasan tahun, rasa itu tetap sama, tetap membuat kita ingin menggenggam hangat tangan mereka karena memahami tragedi serta duka yang mereka terima. Kita ingin pulih bersama, kita ingin berkembang bersama, tentu dengan berjalan beriringan dengan mereka.
PLUS: Monster yang Variatif
Sungguh kelewatan Square membuat kita harus melengkapi koleksi Bestiary yang berjumlah 100 lebih itu. Setiap monster atau sebutannya Fiend di sini, punya keunikan mereka masing-masing, punya fisik sendiri meski ada beberapa yang hanya merupakan tipe lebih kuat dan warna lebih terang atau lebih gelap dari basenya. Namun membuat kita menghadapi segitu banyaknya Fiend unik yang harus kita hadapai sungguh pengalaman luar biasa untuk gim yang fokus utamanya bukan koleksi makhluk-makkhluk yang berasal dari [Spoiler : Roh orang yang tidak rela pergi dan tidak dilakukan ritual sending atau tahlilan]
Sekali lagi, mereka mendesain begitu banyak Fiend ini tentu fungsinya bukan hanya untuk kita basmi, tapi juga untuk kita tangkap sebagai suatu misi sampingan unik di dalam gimnya. Di ujung nanti, kita diberikan kesempatan untuk fast travel menggunakan suatu mekanisme yang membuat kita bisa berkeliling dunia dan mengumpulkan monster-monseter tersebut, Gotta Catch Them All!!! Ini tentu memberikan kita beberapa jam tambahan untuk sekali lagi bisa menikmati betapa indahnya komponen-komponen ini saling beresonansi.
MINUS: Blitzball
Futsal di dalam bola air raksasa? Terdengar menarik bukan? Sayangnya, Square terlalu dalam mendesain player yang ada puluhan yang dapat kita rekruit itu hingga mereka lupa bahwa aspek utama side activity berupa olahraga adalah unsur inklusivitasnya. Harusnya mudah dipahami, harusnya mudah dikendalikan, harusnya mudah dikompetisikan. Sayangnya beberapa hal ini yang belum maksimal dihadirkan oleh Square.
Perubahan sudut pandang tiap kali kita melewati beberapa bagian lapangan membuat kita harus kebingungan sebenarnya kita sedang berada di titik sebelah mana sehingga pergerakan kita harus tertentu dan membuat kita harus kembali melihat mini map di pojokan layar, merusak imersifitas. Tak ada ukuran pasti di jarak berapa kita bisa melakukan passing tanpa ada kompetisi blok, atau pada jarak berapa blok bisa dipastikan berhasil atau tidak, semuanya masih belum bisa dijelaskan oleh Square, bahkan hingga kini.
Kendatipun begitu, penulis tetap mampu menjadi champion dan memberikan Wakka kesempatan memegang legendary weaponnya. Juara musim lalu seperti Liverpool, maaf ya Zidny.
Dengan begitu banyak kekurangan, memang pada akhirnya kita harus berkompromi dan menerima bahwa gim ini bukan fokus pada kompetisinya seperti Tsubasa ataupun Inazuma Eleven. Ini hanya sebuah aktivitas sampingan yang kita bisa pilih lakukan apabila lelah melakukan penumpasan terhadap para makhluk yang muncul di Spira dalam misi mendatangi seluruh kuil.
Gray Area: Kamus Bahasa Besar Al Bhed
Ada sekelompok manusia yang hidup menggunakan teknologi di dunianya, mereka disebut sebagai Al Bhed. Mereka hidup menggunakan bahasa asing, sehingga selama kita berkelana di Spira, kita diberikan kesempatan untuk mencoba memahami bahasa mereka lewat kumpulan informasi soal bahasa tersebut yang menyebar di seluruh Spira. Bagi penulis, mengumpulkannya tidak begitu memberikan dorongan signifikan meski memperluas pengetahuan kita soal komunitas mereka yang berkembang di luar masyarakat Spira dan beberapa item tertentu. Menurut keyakinan penulis, menjadikan segala hal tadi terkunci bagi pemain adalah hal yang dilakukan Square untuk memperbanyak jumlah jam bermain saja, karena seharusnya ada mekanisme lain yang lebih bermakna yang bisa mereka lakukan untuk membuat kita lebih mendapatkan akses memahami masyarakat Al Bhed.
Gray: UI/UX
Kalau kita melihat ini rilisan tahun 2020, mungkin penulis bisa membuat satu esai panjang soal betapa tidak efisiennya UI/UX pada gim ini. Namun sebagai orang dewasa yang bisa menempatkan konteks zaman atas suatu karya seni, penulis menilai bahwa UI yang hadir sudah cukup dapat mewakilkan kondisi industri saat itu. Quality of Life tentu sudah meningkat pesat di genre serupa. Meski begitu, penulis tetap memberikan apresiasi setingginya atas hasil akhir Square ini.
Kesimpulan
FF X HD-R ini untuk siapa saja yang ingin bertumbuh, untuk siapa saja yang siap mengosongkan gelas tidak setengah kosong pun tidak setengah penuh. Untuk siapa saja yang siap mengerti dan memahami, menerima keyakinan bahwa di ujung nanti mungkin bertemu arti.
Final Fantasy X bukan cuman soal hadir ia lebih pada soal perjalanan suci bagi kita para pemain. Kita tidak hanya melihat, tapi kita merasa dan berjalan beriringan dengan kelompok Tidus yang melakukan perjalanan suci mereka. Kita bersiap sepanjang langkah untuk menerima kenyataan bahwa dalam perjalanan, kadang ada duka yang menuntut kita harus berdamai dan ada pengorbanan yang harus kita relakan betapapun kita enggan.
Bahwa FFX mengajarkan kita untuk bersikap skeptis dalam menyikapi begitu banyak persoalan, terutama soal keimanan. Berulang kali kita mengalami ujian dalam mempertahankan peta realita kita. Sehingga sekali lagi mampu membuat kita sadar dan memperbesar pemahaman soal kepercayaan yang kita anut. Di ujung, akan banyak dilema moral menanti hasil akumulasi misteri yang perlahan sejak awal sudah kita gali. Apakah layak kehidupan seseorang kita biarkan mengambang karena kita menolak mereka untuk pergi? Ah, mungkin itu persoalan lain hari.
Terima kasih, salam hangat dari penulis.
Final Verdict
9.3/10 “Life and Fight For Sorrow!”
Plus & Minus (Summary Box)
Plus:
Narrative Design: Alur cerita emosional dengan misteri yang bikin ketagihan.
Gameplay: Mekanik Aeon dan Sphere Grid selaras dengan lore.
Soundtrack: Musik yang membekas dan sangat ikonik.
Character Progression: Pengembangan karakter yang bikin pemain ikut bersimpati.
Koleksi Fiend: Variasi monster melimpah untuk diburu dan ditangkap.
Minus:
Kontrol Blitzball: Sudut pandang kamera dan mekanik olahraga yang membingungkan.











