Review Dynasty Warriors 9: Surat Cinta Developer yang Malah Terasa Seperti Surat Ancaman
Review oleh Sonline - Bernadus Dicky dari Komunitas Player Dua
Bagi para penggemar genre Musou, nama Dynasty Warriors adalah kasta tertinggi untuk urusan tebas-tebasan 1 lawan 1000. Namun, lewat seri ke-9 ini, Koei Tecmo seolah ingin berteriak kalau mereka siap melakukan revolusi besar-besaran.
Setelah menghabiskan 45 jam lebih di versi PS4 (yang gua mainkan di PS5 lewat fitur backward compatibility), gua merasakan sendiri bagaimana rasanya terjebak di antara kekaguman akan ambisinya dan rasa lelah akibat eksekusinya. Berlatar di era runtuhnya Dinasti Han, kita diajak mengikuti persaingan tiga kerajaan besar seperti Wei, Shu, dan Wu dalam balutan konsep open-world yang ternyata jadi pedang bermata dua. Gimana reviewnya? Langsung aja kita masuk ke sinopsisnya!
Sinopsis
Seperti seri-seri sebelumnya, Dynasty Warriors 9 bercerita tentang masa 3 Kingdom di Tiongkok, saat kekuasaan Dinasti Han mulai runtuh dan para jenderal dari Wei, Shu, dan Wu saling bersaing untuk mengambil alih kendali. Sebagai pemain, disini kita diajak mengikuti perjalanan karakter-karakter ini sambil terjun langsung ke peperangan besar dengan gaya khas entry Dynasty Warriors, tapi kali ini dibalut dengan konsep open-world yang menjadi pedang bermata dua dari game ini. Secara keseluruhan, game ini mencoba memberi pengalaman perang yang lebih luas dan imersif dan tetap fokus pada aksi tebas-tebasan 1 vs 1000 yang jadi ciri utama serinya.
PLUS: Skala Perang Terasa Lebih Luas dan Continuity
Salah satu hal yang patut diapresiasi dari Dynasty Warriors 9 adalah skala perang yang terasa jauh lebih luas dan punya sense of continuity dibanding seri sebelumnya. Dengan pendekatan open-world dan tanpa loading antar area, pertempuran tidak lagi terasa seperti potongan stage yang berdiri sendiri, tapi lebih seperti rangkaian konflik yang saling terhubung. Pergerakan pasukan, posisi base, dan objektif yang tersebar di satu map besar membuat perang terasa lebih “nyambung” dari awal sampai akhir, bukan sekadar masuk–hajar–keluar seperti formula lama. Meski eksekusinya belum sepenuhnya rapi, ada momen di mana game ini berhasil memberi kesan bahwa pemain benar-benar berada di tengah perang skala besar, dan itu jadi salah satu aspek yang bikin pengalaman bermainnya tetap enjoyable dan punya value tersendiri.
PLUS: Jumlah Karakter Sangat Banyak
Jumlah karakter dari game ini masuk ke kategori gila banyaknya. Dari nama-nama besar seperti Lu Bu, Zhao Yun, Cao Cao, Liu Bei, sampai Sun Jian, semuanya playable dan bisa dipakai tanpa harus terlalu ribet. Efeknya, pengalaman main jadi terasa lebih variatif, karena selalu ada dorongan buat ganti karakter sekadar biar nggak bosen, meskipun secara core combat sebagian besar masih punya feel yang mirip. Tiap karakter tetap dibekali senjata khas dan animasi sendiri, yang bikin setidaknya ada perbedaan rasa saat dipakai di medan perang. Roster yang super gemuk ini bikin game terasa padat konten di atas kertas dan cukup satisfying buat dieksplor satu per satu, apalagi kalau memang suka eksperimen dan sekadar pengin ngerasain “oh, ini rasanya main pakai karakter ini.”
PLUS: Combat Flow yang ‘Berbeda’ dan Animasi Skill yang Satisfying
Combat flow di Dynasty Warriors 9 terasa cukup berbeda dan lebih fleksibel, dan hal ini makin terasa berkat animasi skill yang cukup satisfying. Sistem State Combo memungkinkan kita merangkai serangan sesuai kondisi musuh—entah saat musuh stunned, ter-launch, atau terjatuh—sehingga pertarungan tidak lagi sekaku pola charge attack klasik. Flow combat-nya jadi lebih bebas dan cepat, memberi ruang buat improvisasi tanpa harus terikat urutan tombol yang kaku. Ditambah lagi, banyak skill dan Trigger Attack dibalut animasi yang flashy dan sinematik, membuat setiap serangan yang connect terasa punya impact. Di momen tertentu, ketika combo berhasil mengalir mulus dan ditutup dengan animasi skill yang panjang, combat terasa lancar, fun, dan cukup memuaskan meskipun pada akhirnya bisa terasa repetitif jika dimainkan terlalu lama.
MINUS: Grafik dan Performa, Kayak PS3?
Kali ini, Koei Tecmo Games mencoba mengambil pendekatan yang berbeda dari seri Warriors sebelumnya. Peningkatan grafis serta gimmick open-world yang digadang-gadang sebagai perubahan besar untuk seri ini, sayangnya terasa lebih seperti angan-angan developer semata. Di luar visual karakter, kualitas grafis lingkungan dan aset lainnya justru terasa biasa saja, bahkan tidak jauh berbeda dari standar grafis era PS3. Palet warna yang cenderung washed out dan kurang vibrant semakin memperkuat kesan visual yang tua dan gloomy. Dari sisi performa, harapan bahwa game yang sudah cukup berumur ini akan mengalami peningkatan melalui update in-game hingga mencapai versi paling optimal, serta proses review melalui penggunaan PS5 lewat fitur backward compatibility, ternyata tidak sepenuhnya terpenuhi. Sekitar 70% waktu bermain terasa berada di kisaran 30–45 FPS dengan performa yang naik-turun dan kurang stabil. Sebagai tambahan, saat mencoba mode split screen (local co-op), performa game benar-benar menurun drastis dan dapat jatuh hingga sekitar 20 FPS.
MINUS: Leveling Tapi Kayak Gak Leveling
Leveling dan sistem progression di game ini juga terasa kurang memberikan sense of reward. Peningkatan level karakter maupun upgrade senjata memang ada, tetapi dampaknya terhadap playstyle terasa minim dan tidak signifikan. Setelah beberapa jam bermain, perubahan yang dirasakan lebih banyak sebatas kenaikan angka stat di layar, bukan pada variasi gameplay atau combat approach yang benar-benar berbeda. Alhasil, proses leveling terasa lebih seperti kewajiban untuk keep-up dengan game, bukan sebagai sistem progression yang benar-benar rewarding bagi pemain. Situasi ini semakin diperparah dengan adanya sistem Trigger Attack, yaitu quick time event yang mengharuskan kita menekan tombol segitiga untuk memicu animasi sinematik yang sering kali langsung one-hit musuh. Mekanik ini justru mudah di-abuse, karena kita bisa saja menerobos base musuh dengan perbedaan level yang cukup jauh dan hanya mengandalkan Trigger Attack, sehingga membuat proses leveling karakter terasa semakin tidak masuk akal dan kehilangan sense of mandatory-nya.
MINUS: Open World = Lapangan Sepak Bola
Konsep open-world di game ini awalnya terasa menarik dan bikin penasaran, apalagi bagi pemain lama seri ini. Peta yang luas memang memberi kesan skala perang yang besar, tapi setelah beberapa jam bermain, dunia game-nya mulai terasa kosong dan kurang alive. Banyak waktu dihabiskan hanya untuk traveling dari satu titik ke titik lain tanpa aktivitas yang benar-benar bikin pengin berhenti dan eksplor. Side mission yang ada pun terasa repetitif dan kurang rewarding, sehingga eksplorasi lama-lama terasa monoton. Untungnya, fitur fast travel cukup membantu dan jujur saja jadi penyelamat supaya tidak terlalu capek bolak-balik map yang besar. Meski begitu, perasaan yang muncul tetap sama: open-world ini lebih terasa luas secara ukuran, tapi kurang dalam dari segi konten, sehingga terasa seperti eksperimen developer untuk coba-coba membuat map luas aja.
MINUS: Sinematik Kelas Dunia ala Film Anak SMP
Dari sisi cerita, penyajiannya terasa cukup terputus-putus dan kurang mengalir. Cutscene yang ditampilkan juga sering kali terasa kaku, bahkan kesannya seperti menonton video film anak SMP yang direkam pakai tripod—minim variasi angle, ekspresi karakter yang datar, voice acting yang cringe, dan penyutradaraan yang kurang kuat. Selain itu, karena game ini mencoba membagi fokus ke begitu banyak karakter, alur ceritanya jadi sering terasa loncat-loncat dan kurang mendalam. Beberapa momen penting lewat begitu saja tanpa build-up yang memadai, sehingga sulit untuk benar-benar merasa terikat secara emosional dengan konflik atau perkembangan karakternya. Akhirnya, cerita di Dynasty Warriors 9 lebih terasa sebagai rangkaian peristiwa sejarah yang disambung cepat, bukan narasi kuat yang benar-benar dibangun dengan rapi.
MINUS: Grinding Brutal Pakai Map Rasa Ensiklopedia Sejarah Tiongkok
Struktur misi di Dynasty Warriors 9 terasa monoton dan repetitif ke level yang cukup melelahkan, terutama setelah beberapa jam bermain. Polanya hampir selalu sama: take down base, take down jenderal, lalu rinse and repeat tanpa variasi objective yang berarti. Masalahnya, semua itu juga tidak dibarengi dengan reward yang satisfying atau meaningful, sehingga banyak misi terasa cuma seperti checklist demi push story progression, bukan sebagai konten yang engaging. Kondisi ini makin diperparah oleh desain map dan user interface yang jujur saja terasa amat sangat basic, clearly showing kalau ini adalah eksperimen pertama-kedua developer bikin game open-world. Tampilan map dipenuhi tulisan teks di mana-mana, minim icon representatif, dan nyaris tidak memberi visualisasi terrain atau biome yang jelas—hasilnya bukan informatif, tapi malah bikin mata capek dan navigasi jadi ribet. Alhasil, misi yang sudah repetitif tadi makin terasa menyiksa karena pemain dipaksa bolak-balik membuka map yang tidak intuitif, membuat keseluruhan gameplay loop terasa stale, uninspired, dan sedikit frustrating, padahal potensinya sebenarnya ada.
GRAY AREA: Bukan Musou Game yang Kita Kenal Lagi
Sistem pertarungan di Dynasty Warriors 9 ini rasanya berada di area abu-abu. Di satu sisi, perubahan combat system yang dibawa terasa cukup fresh dan, jujur saja, masih bisa dibilang enjoyable serta satisfying ketika combo berhasil mengalir dengan mulus dan musuh tumbang dalam jumlah besar. Sistem State Combo ditambah keberadaan Trigger Attack membuat flow pertarungan terasa lebih cepat dan sinematik dibanding seri-seri sebelumnya. Namun di sisi lain, perubahan ini juga terasa cukup drastis, terutama bagi fans lama yang sudah terbiasa dengan sistem charge attack klasik khas Dynasty Warriors. Dalam praktiknya, banyak situasi pertarungan yang akhirnya terasa mirip dan bisa diselesaikan dengan pola yang sama, sehingga variasi combat terasa berkurang. Alhasil, meskipun sistem pertarungan barunya tetap fun dan punya momen satisfying, tidak bisa dipungkiri kalau pendekatan ini berpotensi membuat sebagian pemain lama merasa kurang cocok atau kehilangan identitas gameplay yang dulu mereka kenal.
KESIMPULAN
Dynasty Warriors 9 terasa seperti game yang datang dengan visi super besar dan slogan “this will change everything onwards”, tapi eksekusinya sering terasa setengah napas. Ambisinya jelas kelihatan—open-world luas, perang tanpa loading, roster karakter segunung, dan combat system baru yang katanya lebih modern. Di beberapa momen, semua itu memang works dan terasa fun: combat bisa flow dengan enak, animasi skill terlihat flashy dan satisfying, dan skala perangnya kadang benar-benar bikin kita ngerasa ada di tengah chaos besar. Tapi di luar momen-momen itu, game ini juga sering kelihatan kayak proyek eksperimen yang dilepas terlalu cepat, dengan banyak design choice yang terasa “sounds good on paper” tapi awkward saat dimainkan. Hasil akhirnya adalah pengalaman yang sangat mixed: bukan game yang jelek, tapi juga jauh dari solid; bukan total failure, tapi jelas bukan breakthrough. Dynasty Warriors 9 lebih cocok dilihat sebagai bold experiment yang almost there—punya ide gede dan keberanian buat beda, tapi jatuhnya lebih ke “nice try” ketimbang “well executed”.
Final Verdict
Dynasty Warriors 9: 6/10
Bukan game jelek (hampir sebenernya lol) dan masih cukup cukup enjoyable, apalagi buat fans lama yang penasaran sama pendekatan baru. Tapi di sisi lain, terlalu banyak kompromi di struktur misi, open-world, progression, UI, dan performa yang bikin game ini susah dinilai lebih tinggi. To be exact, angka 6 ini rasanya pas: playable, ada fun-nya, tapi jauh dari maksimal.
Plus & Minus Summary
Plus:
Skala perang terasa lebih luas dan continuity
Jumlah karakter sangat banyak
Combat flow yang ‘berbeda’ dan animasi skill yang satisfying
Minus:
Grafik dan performa, kaya PS3?
Leveling tapi kayak ga leveling
Open world = lapangan sepak bola
Sinematik kelas dunia ala film anak SMP
Grinding brutal pakai map rasa ensiklopedia sejarah Tiongkok








